Mutiara Nasihat

#Penghambat-penghambat menuntut ilmu#

📗1. Niat yang rusak.
Seperti keinginan mencari ilmu karena dunia, atau mencari popularitas dan kemasyhuran, sehingga menjadikan seorang penuntut ilmu matang sebelum waktunya, akibatnya bertebaran da’i da’i karbitan.

📕2. Menyia-nyiakan majlis ilmu.
Padahal majlis ilmu adalah majlis yang turun padanya sakinah, rahmat Allah meliputinya, para malaikat mengelilinginya, dan Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikatNya.

📙3. Beralasan dengan kesibukan.
Ini adalah alasan yang dijadikan oleh setan untuk menghambat banyak manusia dari ilmu, dimana kesibukan bekerja menutup jalan menuju ilmu. Padahal bila ia bersungguh-sungguh, tentu ia akan mampu menyediakan waktu itu menuntut ilmu.

📘4. Terlalu mengikuti perkembangan zaman.
Ini sering menimpa banyak aktivis islam dengan istilah fiqih waqi’. Padahal untuk menjawab problematika umat membutuhkan kekokohan ilmu dan pemahaman yang dalam.

📓5. Merekomendasi diri sendiri.
Ia merasa telah memiliki banyak ilmu, karena sudah punya blog di internet, atau media dakwah lainnya. Lalu manusia memandang dia sebagai ‘alim, sehingga ia merasa puas dengan sesuatu yang ia tidak miliki.
📙
6. Tidak mengamalkan ilmu.
Ini berakibat hilangnya keberkahan ilmu: “Sangat besar kemurkaan Allah kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak lakukan”. (Ash Shaff: 3).

📓7. Merasa minder.
Dia pun malu untuk menghadiri majlis ilmu, padahal para ulama dahulunya bodoh lalu menuntut ilmu sehingga merekapun menjadi ulama.

📗8. Beralasan dengan “nanti”.
Bila ada kesempatan, ia berkata, “Nanti.. Padahal ia tidak tahu kapan ajal menjelang.. Para salaf terdahulu berkata, “Nanti adalah balatentara setan.”

📒9. Menyia-nyiakan waktu.
Dengan mengisi waktunya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, padahal tanda kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.

📚(Dari kitab Ma’alim fii thariiq thalabil ‘ilmi karya Syaikh Abdul ‘Aziz As Sadhan).

Iklan

Mutiara Nasihat

Anak dan Istri yang Menjadi Musuh 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan ayat dalam surat Ath Thaghabun diatas mengatakan, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa diantara sebagian istri dan anak ada yang menjadi musuh bagi suami dan anaknya. Maknanya, bahwa ia menjadi terlalaikan dengan amal dan shaleh disebabkan olehnya. Seperti dalam firman Allah,

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun [63]: 9)

Oleh karena itu dikatakan dalam ayat ini, “Barhati-hatilah kamu darinya.” Ibnu Zaid berkata, “Maksudnya adalah dalam urusan agama.”

Mujahid berkata, firman Allah, “sesungguhnya dari istri-istri kalian dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian” membuat seorang laki-laki memutuskan silaturahmi atau bermaksiat kepada Rabbnya, karena kecintaannya (kepada istri dan anak), ia tidak mampu berbuat apa pun kecuali menuruti keinginan keduanya.” (Tafsir al Qur`an al Adziim, vol. 7, hal. 292, cet. Ibnul Jauzi)

Itulah istri dan anak yang menjadi musuh bagi seorang laki-laki, yaitu istri dan anak yang terlampau dicintai dan disayanginya sehingga membuat ia melupakan Allah, menelantarkan agama, berpaling dari ilmu dan amal shaleh, bahkan menjadikannya bermaksiat kepada Allah, menzalimi sesama, tidak menunaikan hak orang lain dan kikir dalam berinfak di jalan Allah. Betapa banyak saat ini seorang suami dan juga ayah, seorang kepala dalam keluarga yang menjadi ‘korban’ dari anak dan istrinya.

Anak dan Istri yang Menjadi Penyenang Hati 

Tidak semua anak dan istri menjadi musuh, sebagian dari mereka justru menjadi perhiasan dunia seutuhnya, penyenang hati, penggugah jiwa dan penggelora semangat dalam menjalani kehidupan sebagai hamba Allah di dunia ini.

Imam Ath Thabari meriwayatkan dengan sanadnya dari beberapa para ulama salaf mengenai tafsir dari istri-istri dan anak-anak yang menjadi penyenang hati seperti doa ibadarurrahman dalam surat Al Furqan diatas,

Ibnu Abbas mengatakan, “Yaitu mereka yang mentaatimu, mereka menjadi penyenang hati kita di dunia dan di akhirat.”

Hazm berkata, aku mendengar orang bertanya kepada al Hasan, wahai Abu Said, apakah ayat ini untuk di dunia dan di akhirat? Ia menjawab, “tidak, untuk di dunia.” Bagaimana itu? “Yaitu, seorang mukmin melihat istri dan anaknya mentaati Allah.”

Hadzrami membaca ayat, “Ya Tuhan kami, karuniakan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).” Lalu berkata, “Penyenang hati bagi mereka adalah tatkala mereka melihat istri dan anaknya mengerjakan ketaatan kepada Allah.” (Lihat Jaami’ al Bayaan ‘an Ta`wiil aayi al Qur`aan, vol. 17. Hal. 530, tahqiq: Dr. Abudullah bin Abdulmuhsin At Turky)

Ingatlah, bahwa seiring dengan kesenangan dan kebahagiaan yang Allah halalkan dalam kehidupan bersama anak-anak dan istri yang kita cintai, seperti bersenda gurau dengan mereka dan mencari nafkah untuk menghidupi mereka, ada tanggungjawab yang harus kita pikul sebagai pemimpin keluarga, baik untuk urusan dunia dan yang terpenting adalah urusan akhirat mereka. Dan tanggungjawab itu tidak akan dapat kita tunaikan jika ternyata anak dan istri kita menjadi musuh bagi diri kita sendiri, bukan sebagai penyenang hati.

Wallahu a’lam, wallahu waliyyut taufiiq

Aku , Suamiku , dan Dia

“Aku harus berpoligami. Harus, tak boleh
tidak.” Suamiku berkata dengan nada
suara keras dan tegas.
Itu sudah sering diungkapkan olehnya.
Setidaknya satu bulan terakhir ini.
Oo ya kami baru menikah 3 tahun, dan
baru dikaruniai seorang anak berusia 1,
tahun. Aku berasal dari keluarga miskin,
demikian juga suamiku. Aku dilahirkan
dan sesar di sebuah desa kecil, antara
kota Sleman dan Muntilan, Jawa
Tengah. Suamiku berasal dari Wonosobo.
Kami menikah saat usia kami sama-sama
26 tahun. Kami berasal dari satu
almamater di Jogjakarta. Kami sudah
sama-sama menggondol S1. Karena
selama 4 tahun kami mengaji di majelis
ilmu yang sama, lalu diantara kami ada
ketertarikan kemudian menikah.
Saat menikah kami tak bermodal sama
sekali. Suamiku belum memiliki pekerjaan.
Bahkan untuk mengontrak rumahpun,
kami mendapat bantuan keuangan dari
keluarga besar kami.
Untuk walimah pernikahan? Jangan
tanya. Kami menikah hanya dengan
akad sederhana, dan mengundang
beberapa orang dan tetangga saja.
Yang terpenting, nikah kami sah secara
hukum, dan secara administrasi
kenegaraan. Soal pesta, tak kami
pikirkan sama sekali.
Setelah menikah, suamiku berusaha
mencari pekerjaan ke sana ke mari
dengan modal ijazah S1 nya, namun tak
juga beroleh hasil.
Kebetulan bidang yang dikuasainya juga
sangat jarang yang membutuhkannya.
Kalaupun ada perusahaan akan
menuntut pengalaman kerja bertahun-
tahun, dan tentu saja suamiku belum
punya.
Suamiku berusaha untuk berjualan,
mengikuti temannya. Tapi tampaknya ia
tak berbakat di dunia bisnis. Berkali-
kali ia ikut berdagang, dan justru selalu
saja mengecewak an orang lain.
Akhirnya kami banyak hidup dari belas
kasihan orang lain. Uniknya suamiku
seolah-olah tak merasa bersalah sama
sekali. Hany aku yang sering
menanggung malu. Betapa tidak karena
setiap hari kami pergi –seringkali
berjalan kaki– ke rumahteman-teman
suamiku secara bergantian. Kami
sengaja berlama-lama di rumah mereka,
sehingga datang waktu makan. Setelah
itu baru kami pamit, dan pergi ke rumah
teman suamiku yang lain. Tak jarang
sebagian mengetahui kondisi kami
sehingga saat pulang kami diberi ongkos.
Hal itu berjalan hingga satu tahun lebih.
Kalu sudah tidak nyaman pergi ke rumah
teman-temannya, suami akan
mengajakkku menginap satu atau dua
pecan di rumah orang tuanya, atau di
rumah orang tuaku. Setelah itu, ke
rumah kerabat-kerabatnya. Begitu
seterusnya.
Sebagai wanita tentu rasa malu ku lebih
kentara. Menjalani kehidupan rumah
tangga seperti itu, selain menyebalkan,
juga menebalkan muka ku. Bisa para
pembaca bayangkan, betapa malunya
aku, saat setiap hari harus menumpang
makan di rumah orang. Dan bagaimana
pula ketika akhiornya banyak dari
sahabat suamiku akhirnya mengetahui
kebiasaan kami itu.
Memang tak pernah mendapat
penolakan. Mereka juga selalu
menyambut kami dengan suka cita.
Apalagi dalam budaya Jawa, menerima
tamu itu adalah kehormatan. Aib bagi
mereka kalau harus menolak kedatangan
kami, atau membiarkan kami tanpa
dihormati.
Setelah 1,2 tahun kami menjalani
pernikahan, suamiku diterima mengajar
di sebuah SDIT. Meski jauh dari yang
dimauinyatapi kami menerima tawaran
itu dengan suka cita. Mimimal kami punya
penghasilan bulanan. Meski jumlahnya
tidak seberapa.
Dari situ kami mulai bisa makan di rumah
sendiri, ya setelah lebih satu tahun
menikah. Tentu saja hidup kami masih
sangat kekurangan. Jangan berpikir
untuk bisa membeli pakaian atau
peralatan rumah tangga. Sekadar untuk
makan tanpa meminta kepada orang lain
saja itu sudah lumayan. Dan aku sudah
sangat mensyukurinya.
Karena setidaknya aku tak lagi harus
menanggung malu pergi ke sana kemari,
hanya untuk menumpang makan. Aku
sedik it bernapas lega.
1,7 tahun sudah suamiku mengajar di
SDIT tersebut. Gajinya dinaikkan
sedikit. Kini kami bisa menabung sedikit
demi sedikit untuk membeli keperluan
primer lainnya, termasuk pakaian, juga
kebutuhan alat-alat masak dan
sejenisnya.
Tapi datang pula hal lain yang
merisaukan hatiku. Suamiku sedang
berhasrat kuat untuk berpoligami.
Kebetulan di pengajian, ustadz kami
sering membahas persoalan tersebut.
Dari berbagai penjelasannya
ssuamikumemahami bahwa poligami itu
adalah sunnah. Intinya bahwa setiap
muslim disunnahkan untuk berpoligami.
“Orang yang tidak berpoligami, itu
pengecut,” ujar ustadz kami.
Simak saja firman Allah: ﻓَﺎﻧْﻜِﺤُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻃَﺎﺏَ ﻟَﻜُﻢْ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻣَﺜْﻨَﻰ ﻭَﺛُﻼﺙَ ﻭَﺭُﺑَﺎﻉَ ﻓَﺈِﻥْ ﺧِﻔْﺘُﻢْ ﺃَﻻ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﻓَﻮَﺍﺣِﺪَﺓً
ﺃَﻭْ ﻣَﺎ ﻣَﻠَﻜَﺖْ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧُﻜُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻻ ﺗَﻌُﻮﻟُﻮﺍ maka
kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi: dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil, maka (kawinilah)
seorang saja, atau budak-budak yang
kamu miliki. Yang demikian itu adalah
lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya. (An Nisaa: 3)
“Nah, seorang muslim yang gak
berpoligami, berarti ia penakut…”
Ungkapan itu disampaikan dengan
canda, tapi ditanggapi dengan begitu
serius oleh jama’ah pengajian. Terutama
kaum prianya. Berderai tawa mereka
mendengar seloroh ustadz kami tadi.
Ini memang pemahaman keliru yang
cenderung fatal yang difahami oleh
sebagian kaum muslimin, di lingkungan
pengajian. Banyak anggapan beredar
bahwa poligami itu memang disunnahkan
secara khusus. Padahal, asal hukum
poligami hanyalah mubah, diperbolehkan,
dengan syarat mampu berlaku adil.
Memang hukumnya bisa bervariasi,
seperti halnya menikah. Tapi pada
sebagian kaum muslimin, poligami
dianggap sebagai syariat khusus,
disunnahkan secara spesifik, sehingga
setiap mereka berjuang keras untuk bisa
beristri lagi, tanpa memperhatikan
kemampuan, tanpa mencermati situasi
dan kondisi. Bahkan mengabaikan sama
sekali pendapat dan keadaan istrinya!!!
Itu pula yang terjadi di lingkungan
pengajia n kami, terutama akibat dari
berbagai nasihat wejangan salah
kaprah dari ustadz tadi. Kalaupun ada
ustadz-ustadz lain yang member
penjelasan poligami secara lebih
komprehensif, malah justru kurang
diminati dan tak ditanggapi secara
layak.
Sehingga sebagai akibatnya,
kebanyakan hadirin terprovokasi untuk
berlomba-lomba menikah lagi termasuk
suamiku.
“Aku harus berpoligami. Harus tak boleh
tidak. “ Itu yang kini sering
dikampanyekannya.
“Tapi mas keadaan kita masih seperti
ini? Untuk kehidupan sehari-hari kita
bertiga saja, sudah kepayahan…”
“Dik rezeki itu Allah yang menentukan.
Setiap mulut, sudah ada jatahnya
sendiri-sendiri. Kamu kan dengar
penjelasan ustadz kemarin?”
“Aku tahu. Sebagai wanita kamu
cenderung menolak syariat poligami,
kan?”
“Enggak, mas…”
“Lalu apa?”
“Sebatas yang pernah aku baca,
berpoligami itu kan ada syaratnya…”
“Berlaku adil kan? Darimana Adik bisa
tahu, kalau aku bukan tipikal orang yang
bisa berlaku adil?”
“Bukan soal itu mas.”
“Lalu?”
“Poligami itu bisa berbeda-beda
hukumnya. Dan pelaksanaannya juga
harus dibangun di atas dasar
kemaslahatan rumah tangga secara
umum. Artinya, harus dilakukan dengan
penuh perhitungan. Bila menimbulkan
mudharat, lebih baik tidak diamalkan.
Kecuali dalam kondisi darurat…”
“Ah itu hanya alasan mempersulit jalan
menuju poligami kan? Menurut yang
kupahami, poligami itu adalah hukum asal
dari pernikahan. ‘Nikahilah 2, 3 atau 4
bagi yang betul-betul berlaku adil?”
“Tapi perintah ‘nikahilah’ itu kan ada di
depan, dan cukup satu saja, itu ada di
belakang?”
Tapi dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir edisi
terjemahan, bukan begitu
penjelasannya, Mas. Di situ dijelaskan
seperti yang kukatakan tadi…..”
“Sudahlah, bilang saja, bahwa kamu
menolak di poligami…”
“Tidak sejauh itu, Mas….”
“Sudahlah, pokoknya aku harus
berpoligami. Titik.”
Aku terdiam.
Selama hampir sebulan, suamiku selalu
bicara soal poligami. Yang lebih hampir
membuatku tak nyaman, seringkali
‘ustadz’ mampir ke rumah kami, dan
membahas soal keinginan suamiku
berpoligami. Mereka s eolah-olah tak
lagi memperdulikan perasaanku sebagai
wanita. Guru dan murid itu, begitu
nyamannya mengobrolkan poligami,
seolah-olah aku tak ada di dekat
mereka!!
Akhirnya, suamiku ditawari oleh ustadz
tsdi seorang muslimah dari Purworejo. Ia
kini tinggal di Jogja, ia tinggal bersama
kakak kandungnya, ia lulusan SMU di
Purworejo, dan tidak malanjutkan kuliah.
Tapi membantu sang kakak menjaga toko
busana muslimah di rumah kakaknya
tersebut.
O ya, itu sudah yang ketiga kalinya,
suamiku ditawari. Yang pertama, ia
tidak setuju, karena kurang menyukai
calon yang disodorkan. Dua kali
selanjutnya, suamiku mau, namun gagal
karena kedua orang tua si gadis, tak
mau putrinya dinikahi sebagai isteri
kedua.
Nah, kali ini klop sudah. Mareka berdua
sepakat untuk menikah, dan kedua orang
tua si gadis juga merestuinya. Meski
mereka pun tahu, kondisi perekonomian
kami yang empot-empotan.
Persoalannya, si gadis juga berasal daris
keluarga tak berpunya. Hanya kakak
kandungnya yang sedikit berada. Selain
dosen. Ia juga juga punya usaha kesil-
kecilan di rumahnya. Selebihnya,
saudara-saudaranya semua hidup di
bawah garis kemiskinan.
Tentu saja itu bukan hal yang
membuatku tidak menghargainya sama
sekali. Tapi, aku sangat
mengkhawatirkan kehidupan kami,
terlebih secara nyata kami hidup serba
kekurangan. Bila dengan satu rumah
tangga saja demikian, apalagi dengan
dua orang istri? Aku bingung dibuatnya.
Tapi pernikahan itu tetap dilakukan.
Sama dengan saat menikah denganku,
akad dilakukan secara sederhana saja.
Dan lagu pun mendendang kembali.
Untuk mengontrak rumah pun, suamiku
harus pinjam sana pinjam sini.
Rumah kontrakan maduku itu, tak jauh
dari tempat tinggalku, kebetulan aku
dan suamiku sekarang mengontrak
secara gratis, fasilitas dari tempat
suamiku mengajar. Tapi kini kami harus
berpikir keras untuk mencari biaya sewa
rumah, buat istri baru suamiku.
Tapi Alhamdulillah antara aku dan
maduku, tak terjadi hal-hal yang
kurang menyenangkan. Kami bisa saling
memahami, dan berusaha membangun
saling pengertian. Kami juga saling
mengunjungi, hampir setiap hari. Kadang
kami masak bersama, dan melakukan
segala hal bersama.
Tapi persoalan memang datang dari hal-
hal yang sudah kami duga sebelumnya.
Kini suamiku harus berpikir keras untuk
memenuhikebutuhan kami. Gaji sebagai
guru SDIT, tentu tak cukup buat makan
dan memnuhi kebutuhan kami bersama.
Masalahnya suamiku juga bukan tipe
pekerja keras. Meski berasal dari
keluarga tak punya, orangtuanya dulu
seorang pegawai negeri sipil. Sehingga ia
hnaya tahu pola kerja sebagai pegawai
sebagai cara mencari nafkah. Sudah tak
punta bakat berdagang, semangat
bekerjapun masih sangat
mengkhawatirkan.
Di SDIT, suamiku pun sering mendapat
teguran, karena mangkir mengajar. Bila
ditanya, alasannya sedang tidak focus,
bingung memikirkan keluarga. Tapi
kenyataannya setiap kali tidak
mengajar suamiku hanya tidur-tiduran
di rumah saja.
Aku juga malu ketika pihak sekolah sering
datang ke rumah, dan mempertanyakan
soal jadwal mengajarnya yang kian hari
kian sering kosong. Padahal gaji bulanan
selalu dibayar penuh tepat waktu.
“Kalau bapak gak bisa mengajar lagi,
tidak masalah. Kami akan cari guru
pengganti. Tapi kami butuh kepastian..”
itu ucapan yang terakhir kali
dilontarkan guru SDIT, di rumah kami.
Betapa malunya diri ini. Saat itu
gilirannya tidur di rumahku.
“Saya masih ingin mengajar pak. Tapi
saya memang sedang tidak mampu
berkonsentrasi..”
“Ya pak kami pribadi bisa mengerti. Tapi
kasihan ank-anak sering kosong
pelajarannya. Para wali murid juga
sudah mulai mempertanyakan soal itu..”
“Ya Insya Allah saya akan segera aktif
kembali..”
Tapi janji itu tinggal janji. Suamiku tetap
saja malas. Dia lebih sering banyak
mengobrol dengan teman-temannya,
membicarakan rencana bisnis yang tidak
pernah kesampaian.
Aku tahu suamiku bukan tak mau
berusaha. Hanya saja ia terlalu idealis.
Seringkali ia mengungkapkan konsepnya
yang melambung-lambung tentang
bisnis, tapi di areal yang sulit dijangkau
oleh kemampuan kami sekarang ini. Dan
aku pun tahu bahwa kecakapan suamiku
di soal bisnis, hanya pada tataran teorit
is saja. Sehingga, dari hari ke hari ia tak
juga menggeluti usaha apapun. Padahal,
kebutuhan kami kian hari kian
bertambah.
Dan yang ku khawatirkan terjadi juga.
Pihak SDIT memecat suamiku. Meski itu
dilakukan dengan bahasa yang santun,
melalui surat resmi dan secara langsung
di depan suamiku di kantor sekolah, tapi
tetap saja kami shock. Aku dan maduku
juga semakin ketar-ketir.
Bayangkan saja, anakku kini sudah 2
tahun lebih. Kebutuhannya sudah
semakin banyak. Maduku sekarang juga
sedang mengandung. Ia juga butuh
asupan makanan yang lebih layak.
Sementara penghasilan suamiku satu-
satunya yang begitu kami harapkan –
meski jauh dari mencukupi- kini
melayang sudah. Pikiran kami kalut.
Anehnya suamiku terlihat biasa-biasa
saja.
“Insya Allah ada rezki dari arah yang
tidak disangka-sangka…” suamiku
berdalih lagi.
Ia mulai mencari pekerjaan lain, dengan
membantu berdagang sate. Itu
berlangsung 2 bulan. Tapi, karena juga
berkali-kali mangkir, ia kembali
diberhentikan.
Ia juga pernah ikut ngerneti truk
tetangga. Hanya bertahan satu bulan,
ia sudah kembali berhenti.
‘Ga tahan dengan kondisi kehidupan
para supir truk. Menyeramkan,” ujar
suamiku saat menceritakan
pengalamannya sebagai kernet.
Satu tahun sudah, semenjak berhenti
sebagai pengajar di SDIT, suamiku
berlari dari satu usaha ke usaha yang
lain. Tapi ujungnya nyaris sama: kalau
tidak diberhentikan karena malas,
berhenti sendiri tanpa sebab yang jelas.
Maduku kini sudah dikaruniai seorang
anak lelaki manis, berusia 4 bulan.
Anakku sendiri udah berusia 3 tahun.
Kehidupan kami kembang kempis tak
karuan. Kami sering bertemu, dan saling
mengeluhkan kondisi kami. Kami tahu,
mungkin tak pantas kami berkeluhkesah
seperti ini. Tapi ini realitas yang tak
dapat kami pungkiri. Suami kami terbukti
tak mampu menghidupi kami secara
layak, dan tak terlihat gigih mencari
rezeki demi penghidupan kami.
Maka hasil pertemuan selalu kami
sampaikan sebagai saran kepada
suamiku. Tapi ia nyaris tak menggubris
usul-usul kami. Termasuk, melamar lagi
ke SDIT, di mana ia pernah meng ajar
dahulu. Karena kini kami harus
mengontrak rumah dengan biaya kami
sendiri, sementara penghasilan kami juga
tak jelas.
“Kalau bapak masih mau mengajar di
sini, tidak masalah. Kami terima dengan
terbuka. Asalkan bapak bisa disiplin
mengajar, seperti guru-guru yang
lain…” ungkap kepsek SDIT tersebut,
saat aku dan maduku berkunjung ke
sana.
Tapi saat itu kami sampaikan ke suami
kami, ia menolak.
“Aku malu mengajar di sana lagi. Tak
usah saja…”
“Tapi kita butuh penghasilan…”
“Tidak harus mengajar kan kita bisa
cari usaha lain…”
Sebagai wanita, kami tak bisa berbuat
lebih. Kami pernah memberi usul,
bagaimana kalau aku yang mengajar di
SDIT tersebut? Suamiku justru marah
luar biasa.
“Sebagai wanita muslimah yang baik,
kamu harus menjaga pergaulan. Di SDIT
itu, kamu sulit menjaga pergaulanmu
dengan para pengajar pria…”
Aku pun terdiam.
Maduku memberi usul untuk membuat
kue, dan ditawarkan ke warung-warung.
Suamiku juga menolak.
“Wanita, lebih baik di rumah saja…”
Kami kembali terbungkam.
Hari-hari berlalu dengan nada yang
sama: kesusahan. Suamiku tak kunjung
memperoleh pekerjaan layak, atau yang
ia tekuni dengan baik. Banyak yang
menawarkan pekerjaan untuknya, tapi
kadang ia tolak, ataupun jika diterima
dan digeluti sebentar, lalu berhenti lagi.
Sebagai wanita kami juga penuh
kekurangan. Kami sempat
‘membocorkan’ kondisi keluarga kami,
kepada satu-dua orang muslimah, teman
mengaji kami. Terus terang, kami
terpaksa bercerita untuk mencari solusi
dan pemecahan. Tapi hingga kini belum
juga terlihat jalan keluarnya.
Aku maupun maduku pernah sesekali
berinisiatif untuk mundur, maksudku
biarlah aku pisah dari suamiku. Tapi
maduku justru menawarkan hal yang
sama, biar dia saja yang dicerai, agar
aku bisa hidup layak bersamanya. Tentu
saja aku tak setuju.
Lama bergaul dengannya, di antara
kami sudah terjalin tali kasih. Aku
sayang kepadanya. Aku tak ingin ia
menderita. Sebagaimana dia pun tak
mau diriku merana Tapi para pembaca
sekalian, apa yang dapat kami lakukan?
Kami ingin semua berbahagia. Dan kami
selalu berusaha untuk bersabar dan
tabah menjalani segalanya. Tapi sampai
kapan?
Kondisi kami kian hari kian memburuk
saja. Meski tak kuyup prahara, tapi kami
mulai merasakan gelegar derita.
Percikan-percikan kecil duka yang makin
hari makin menggemuruh, dan membuat
kami makin tak punya daya.
Pembaca sekalian, BUKAN KAMI
MENOLAK DIPOLIGAMI. Tapi bila
beginilah yang harus terus kami alami,
lambat laun, wajarlah, bila kini kami
mulai membencinya…
ﻭَﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﺗَﻜْﺮَﻫُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﺍ
ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﺮٌّ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻻ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat
buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah:
216)
(Ini adalah kisah ketujuh dari buku
kumpulan 13 kisah poligami berjudul Aku
Wanita yang Dipoligami yang disusun
oleh Ustadz Abu Umar Basyir. Dalam
buku tersebut kisah ini diberi sub judul
Aku Benci Dipoligami. Kisah ini
dituturkan oleh seorang istri. Mudah-
mudahan bermanfaat untuk kita semua
dan menyadarkan betapa semangat
berpoligami tanpa bekal ilmu dan
kecukupan materi adalah sebuah perkara
yang sangat berbahaya…)
~DA’WAH AL HANIF~

Mutiara Nasihat

(*) TERNYATA SEGELAS AIR PUTIH BISA LEBIH BERHARGA DARIPADA DUNIA DAN SEISINYA (*)

» Diriwayatkan bahwa Ibnus Samak rahimahullah masuk menemui khalifah Harun Ar-Rasyid memberikan nasehat, sampai khalifah menangis. Kemudian Ibnus Samak meminta segelas air, dan mengatakan: “Wahai amirul mukminin, seandainya engkau dihalangi dari (meminum) minuman ini (padahal engkau dlm keadaan sangat kehausan), kecuali dengan (membayar) dunia dan seisinya, apakah engkau akan menebus segelas air itu dengannya?”. Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnus Samak mengatakan (kepadanya): “Minumlah dengan puas, semoga Allah memberkahi anda”.

Ketika khalifah telah minum, Ibnus Samak berkata lagi kepadanya: “Wahai amirul mukminin, beritahukan kepadaku seandainya engkau dihalangi mengeluarkan minuman ini dari (diri)mu, kecuali dengan (membayar) dunia dan seisinya, apakah engkau akan menebusnya?” Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnus Samak mengatakan (kepadanya): “Lalu apakah yang akan engkau lakukan dengan sesuatu (yakni dunia n seisinya) yang mana seteguk air lebih baik darinya?”.

(*) Dialog antara seorang ulama dengan kholifah ini menunjukkan bahwa kenikmatan Allah yang berupa minum air di saat kehausan yg sangat lebih besar daripada memiliki dunia seisinya. Kemudian adanya kemudahan di dalam mengeluarkannya dengan buang air termasuk kenikmatan yang sangat berharga. Ini juga menunjukkan betapa besarnya nikmat kesehatan. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah, hal. 366, ta’liq dan takhrij: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi).

» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

(*) Baca pula Artikel ilmiyah berikut, KLIK:
http://abufawaz.wordpress.com/tag/berupaya-menjadi-hamba-allah-yang-selalu-bersyukur/